Jumat, 06 Juni 2014



       1.   Menulis Buku Harian atau Pengalaman Pribadi dengan Memperhatikan Cara    Pengungkapan   Dengan Bahasa yang Baik dan Benar 

 
                 Ketika kamu menulis buku harian, kamu dapat menggunakan kalimat yang ekspresif. Kalimat ekspresif adalah kalimat yang menyatakan pikiran dan perasaan secara mendalam. Dalam kalimat itu, biasanya digunakan idiom dan pilihan kata tertentu yang menunjukkan arti ‘sangat’. Idiom merupakan gabungan kata yang menyatakan satu ungkapan makna, misalnya, gabungan berat hati dalam kalimat “mereka melakukan kegiatan itu dengan berat hati”. Berat hati dalam kalimat itu bermakna ‘enggan dan terpaksa sekali’. Pilihan kata tertentu juga dapat menunjukkan arti ‘sangat’ atau bagian kalimat yang lain, misalnya, wah, liar biasa, aduh atau hebat.

 
       a. Menjelaskan Makna Idiom Dalam Kalimat Ekspresif


                   Kalimat-kalimat berikut menunjukkan kalimat ekspresif. Coba kamu jelaskan makna idiom dalam kalimat-kalimat berikut! Jika kamu merasa kesulitan, gunaka Kamus Besar Bahasa Indinesia atau diskusikan bersama temanmu!

       1.      Hari ini, aku pergi sekolah. Di perjalanan, aku melihat rumah luluh lantak    oleh badai  kemarin. (Luluh lantak dalam kalimat itu bermakna ‘hancur sama sekali’).

      2.      Banjir bandang meratakan kawasan wisata yang indah itu. (Banjir bandang dalam kalimat itu bermakna ‘banjir besar yang datang dengan tiba-tiba dan mengalir deras menghanyutkan benda-benda besar (kayu, dan sebagainya) atau air bah’).

       3.      Hampir seluruh Desa Bukit Lawang, Kecamatan Bohorok, terendam air bah. (Air bah dalam kalimat tersebut bermakna ‘banjir.).

        4.       Jangan hanya berpangku tangan, bantulah korban bencana banjir. (Berpangku tangan dalam kalimat tersebut bermakna ‘tidak berbuat (bekerja) apa-apa’).

       5.      Banyak wisatawan mancanegara yang jatuh hati setelah melihat Taman Nasional Gunung Leuser.(Jatuh hati dalam kalimat itu bermakna ‘menaruh cinta (kasih) kepada Taman Nasional Gunung Leuser atau menaruh belas kasihan kepada Taman Nasional Gunung Leuse’).

        6.      Kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri gelombang air bercampur lumpur. (Mata kepala sendiri dalam kalimat itu bermakna ‘melihat dengan matanya sendiri tanpa mendengar cerita dari orang lain’).








        Aspek Kebahasaan

        Menguasai dan Menerapkan Kata yang Mengalami Pergeseran Makna
      Contoh : “Saya sependapat dengan saudara Dira, permasalahan ketertiban lingkungan memang tanggung jawab kita bersama.”
                 Kata ‘Saudara’ pada contoh di atas mengalami pergeseran makna. Dulu kata saudara hanya berarti ‘orang yang seibu seayah atau memiliki hubungan darah’, tetapi sekarang saudara juga berarti siapa saja yang dianggap sederajat atau berstatus sosial yang sama.
                  Faktor yang mempengaruhi pergeseran makna di antaranya adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan sosial budaya, perbedaan bidang pemakaian, adanya asosiasi atau pertautan makna, pertukaran tanggapan indra, perbedaan tanggapan, penyingkatan, proses gramatikal, dan adanya pengembangan istilah.
      Jenis pergeseran makna adalah sebagai berikut:

         1.      Pergeseran makna meluas, yaitu makna yang baru lebih luas daripada makna yang lama. Contoh: kata ibu (dulu berarti ‘orangtua perempuan’ sekarang untuk menyebut semua perempuan yang kedudukannya lebih tinggi atau patut kita hormati).

        2.      Pergeseran makna menyempit, yaitu makna yang baru lebih sempit daripada makna yang lama. Contoh: kata sarjana (dulu berarti setiap orang yang pandai, sekarang untuk yang bergelar atau lulusan perguruan tinggi).

        3.      Pergeseran makna amelioratif, yaitu makna yang baru dianggap lebih halus daripada makna yang lama. Contoh: kata pramuwisma (dianggap lebih halus daripada kata pembantu).
\
       4.      Pergeseran makna peyoratif, yaitu makna yang baru dianggap lebih kasar daripada makna yang lama. Contoh: kata bini (dianggap lebih kasar daripada kata istri)
        5.      Pergeseran makna sinestesia, yaitu perubahan atau pergeseran makna akibat penukaran indra. Contoh: kata manis untuk indra pencecap bertukar dengan indra penglihatan, yaitu pada kalimat “Gadis itu manis.”
        6.      Pergeseran makna karena asosiasi (pertautan makna), yaitu dipertautkan dengan hal-hal lain. Contoh: kata amplop yang berarti alat untuk menyampul surat, bisa juga untuk membungkus uang sogok.







     1. Hal  36 materi yang berhubungan dengan semantik ialah yang berhubungan dengan penamaan dan pendefenisian yang berupa mengetahui bagian-bagian yang berupa identifikasi, klasifikasi/deskripsi, dan deskripsi bagian pada teks deskripsi  "Tari Saman".

    2. Hal 51 materi yang berhubungan dengan semantik ialah yang berhubungan dengan penamaan      dan pendefenisian yang berupa mengetahui bagian-bagian yang berupa identifikasi, klasifikasi/deskripsi, dan deskripsi bagian pada teks deskripsi  "Pantun Indonesia".   

       3. Hal 95 materi yang berhubungan dengan semantik yaitu pada penyusunan teks eksposisi "Teknologi Tepat Guna" menggunakan alat kohesi. Kohesi adalah keterpaduan yang dicapai melalui pemilihan kosakata. Kohesi leksikal dapat berbentuk, antara lain dengan pengulangan, sinonim, hipononim, dan antonim.